
Tidak
ada yang menyangka bila perjalanan kita tiba-tiba terganggu karena ban
kendaraan yang kita kendarai pecah atau bocor. Apalagi bila lokasinya
jarang populasi manusia, tentu menambah kecemasan saat berkendara.
Kini, untuk mengatasi masalah tersebut, ada alat canggih tambal ban yang ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana, yang disebut
Tab-Trik Portable. Alat ini diproduksi oleh mahasiswa semester akhir di ITS, dengan konsep alat pemanas yang portable.
Pada Awalnya…
Arifuddin menunggangi sepeda motornya membelah aspal Kulon Progo,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Surabaya, tujuannya ke Yogyakarta,
sejauh 267 kilometer, mengunjungi teman.
Tiba-tiba ban belakangnya ogel-ogelan karena kehabisan udara.
“Kena paku,”
ujarnya. Celingak-celinguk mencari bantuan, hanya gelap yang ia dapati.
Sendirian di tengah malam, dia menuntun Honda Mega-pro, yang berbobot
lebih dari 100 kilogram, melewati hamparan sawah serta kebun sampai
keringat mengucur deras dan napasnya “Senin-Kamis”. Lajang 23 tahun ini
memutuskan bermalam di sebuah pompa bensin, baru meneruskan misi mencari
tukang tambal ban keesokan harinya.
Dia ingin melupakan pengalaman pahit tahun lalu itu. Bersama dua
rekannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, dia
menciptakan mesin tambal ban elektrik, yang dinamai Tab-Trik Portabel.
“Konsepnya sangat sederhana,” ujar Arifuddin.
Komponen & Rancangan
Komponen utamanya adalah pemanas dari baja tahan karat atau stainless
steel bergaris tengah lima sentimeter. Seperti di tukang tambal ban,
pemanas berguna merekatkan tambalan pada karet ban. Daya panas datang
dari listrik. Mahasiswa asal Jepara, Jawa Tengah, ini memasang dua
kabel, lengkap dengan pentolannya, sehingga pengguna bisa memilih sumber
setrum dari colokan rumah atau aki sepeda motor.
Dari aki berdaya 5 ampere dan 12 volt, inverter mengubah setrum DC
jadi AC. Panas berasal dari lilitan kawat pemanas solder, yang
menghasilkan suhu 150 derajat Celsius pada lempengan baja. Arus listrik
yang masuk juga melewati unit pengatur waktu, yang mati dalam 13 menit.
“Kurang dari itu tambalan tidak merekat maksimal. Tapi, kalau lebih, ban bisa meleleh,” kata mahasiswa jurusan teknik elektro tingkat akhir itu.
Arifuddin, Rizal Daus, dan Sugianor merancang alat ini tahun lalu.
Rekan satu rumah kos di Jalan Arif Rahman Hakim, Keputih, Surabaya, ini
mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa yang diadakan Direktorat Jenderal
Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional pada Oktober 2010.
Arifuddin cs termasuk di antara 5.000 kelompok yang terpilih mendapat
dana penelitian. Pada April 2011 lalu, mereka kebagian Rp 6 juta untuk
mewujudkan rancangannya. Karena konsepnya sudah matang, tiga sekawan itu
tak menemui banyak kesulitan. Bongkar-pasang dilakukan di laboratorium.
Kadang dilanjutkan di tempat kos, yang hanya berjarak sepelemparan batu
dari kampus.
Mereka mengaku kesulitan membentuk casing dari aklirik. Desain
beberapa kali berubah untuk menyesuaikan pembungkus dengan jeroannya.
Hampir sebulan, mesin tercipta. Berbentuk kotak berukuran sepuluh
sentimeter persegi, dilengkapi laci imut untuk menyimpan lem, karet
penambal, pembuka pentil ban, dan aluminum foil. Belum sempurna memang.
Dosen pembimbing mereka, Joko Susila, mengatakan tampilan perangkat itu masih acakadut.
“Desainnya masih perlu diperhalus,”
kata pengajar teknik pengaturan ini. Tab-Trik Portabel ibarat kios
tambal ban yang bisa dibawa ke mana-mana. Tapi ini tak akan berguna
tanpa mekaniknya. Karena tidak bisa diwakili mesin, penambalan mesti
dipelajari dan dikerjakan sendiri. Ibaratnya belajar jadi abang tambal
ban.
Produksi & Paten
Menurut Arifuddin, menambal ban bukan perkara sulit.
“Lihat saja, banyak anak kecil yang jadi tukang tambal ban,” katanya. Arifuddin cs telah menyiapkan cara ganti ban dalam
manual book
alatnya. Ban kempis karena ban dalam sobek biasanya terkena benda
tajam. Setelah menghentikan sepeda motor di tempat terang dan aman, hal
yang harus dilakukan adalah membuka sekrup pentil dan melepaskan ban
luar dari pelek.
Permukaan ban dalam yang sobek dibersihkan, lalu bubuhi lem, klep
penambal, dan aluminum foil. Nah, mulailah Tab-Trik bekerja. Setelah
alat tersebut dicolokkan ke listrik atau aki, bagian yang akan ditambal
ditempelkan pada lempeng baja pemanas, lalu ditutup. Tiga belas menit
kemudian, tambalan akan melekat sempurna, dan ban siap digunakan
kembali, setelah dipompa tentunya.
Menurut Arifuddin, orang awam butuh 30 menit untuk mengerjakan itu.
Hampir sama dengan waktu menambal ban di kios pinggir jalan, dengan
catatan tidak ada antrean. Mesin itu menelan modal sekitar Rp 250 ribu.
Bagian terbesar adalah membeli inverter, yakni Rp 100 ribu. Arifuddin
memperkirakan biayanya bisa ditekan jika alat itu diproduksi massal,
menjadi sekitar Rp 150 ribu.
Dia berencana mematenkan karyanya tersebut ke Kantor Hak Kekayaan Intelektual di Tangerang, Banten. “
Tapi urung karena belum ada duit,” katanya sembari nyengir. Menurut dia, untuk pendaftaran saja butuh Rp 1 juta.

Dengan
ukuran mungil, alat seberat 0,5 kg dan berdimensi 11 x 10 x8,5 cm ini
bisa masuk di hampir semua bagasi sepeda motor, juga ransel. Ditambah
pompa dan besi pencungkil ban berukuran 15 sentimeter, mesin ini bisa
jadi perangkat wajib untuk sepeda motor, layaknya ban cadangan dan
dongkrak untuk mobil, terutama untuk perjalanan jauh. Dengan mesin ini,
Arifuddin cs sudah mengucapkan selamat tinggal kepada tukang tambal ban.
Sumber:
http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/06/10/tab-trik-alat-tambal-ban-elektrik-portabel-buatan-mahasiswa-its/